Kisah Syaidina Umar Bin Khattab dan Si Wanita Pemasak Batu
Kisah Syaidina Umar Bin Khattab dan Si Wanita Pemasak Batu.
Pada Suatu Zaman, kisah Syaidina Umar Bin Khattab dan si wanita pemasak batu ini terjadi pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab Radhiallahu Anhu. pada masa itu Masyarakat nya menderita pasca Paceklik berat dan pada saat itu hujan tidak lagi turun, pepohonan mengering, hewan-hewan mati, Tanah tempat berpijak kering hampir menghitam layaknya abu.

Tiba-tiba Khalifah Umar terkaget dari sebuah gubuk yang kusam terdengar suara gadis kecil yang menangis begitu kerasnya. Khalifah Umar bin Khattab dan Aslam pun bergegas menghampiri gubuk itu untuk melihat apa yang sedang terjadi di gubuk itu.

" Assalamualaikum "
" Wa'alaikumussalam "
Jawab seorang wanita dengan sedikit mengabaikan dan tetap melanjutkan pekerjaannya mengaduk panci.
Khalifah Umar berkata lagi :
" Boleh saya masuk "Si wanita itu menjawab :
" Silahkan jika engkau membawa kebaikan "Kemudian Syaidina Umar mendekati wanita itu dan bertanya :
" Siapakah yang menangis di dalam itu .?"Si wanita itu menjawab :
" Itu Anakku "Umar Bin Khattab berkata lagi :
" Kenapa anak-anakmu menangis..?Apakah mereka sakit "
Si wanita menjawab :
"Mereka tidak sakit,mereka lapar, kelaparan"Mendengar jawaban si wanita itu, Syaidina Umar Bin Khattab dan Aslam terkejut mendengarkannya.
Lalu Kemudian Syaidina Umar bertanya kembali :
" Apakah yang sedang engkau masak itu..?" kenapa tidak matang-matang juga masakan mu itu .."Si wanita itu menjawab :
" Engkau lihatlah sendiri apa yang aku masak ini.."Syaidina Umar dan Aslam pun bergerak untuk melihatnya dan begitu kagetnya mereka melihat masakan si wanita itu.
Sambil terbelalak dan tidak percaya Khalifah Umar Bin Khattab pun bertanya lagi :
" Apakah engkau memasak Batu ..?"Si wanita berkata dengan raut wajah sedih dia menceritakan apa yang sedang ia alami :
.." Aku memasak Batu-Batu ini untuk menghibur anak-anakku .."Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab, dia tidak mau melihat kebawah, apakah kebutuhan rakyatnya terpenuhi apa tidak .
Lihatlah aku, Aku seorang janda tua .
Sejak dari pagi tadi, aku dan anak-anakku belum makan apa-apa, sehingga aku menyuruh anak-anakku untuk berpuasa dengan harapan ketika mereka bangun nanti untuk berbuka puasa kami mendapatkan rejeki. Namun ternyata kami tidak mendapatkannya bahkan sesudah magrib tiba pun kami belum berbuka puasa, hingga menjelang Isa tiba kami belum juga makan apa-apa.
Anak-anakku aku suruh tidur dengan perut yang kosong, aku sengaja mengumpul kan batu-batu kecil ini untuk dimasak ke dalam panci berisi air, untuk membohongi anak-anakku, dengan harapan mereka akan tertidur lelap sampai pagi.
Dan ternyata anakku tidak tertidur dengan lelap, sebentar-sebentar mereka terbangun dan meminta makan, mungkin karena lapar.
Maka dari itu anak-anakku menangis karena kelaparan dan aku sebagai seorang ibu tidak tau harus berbuat apa .kami tidak punya gandum untuk dimasak.
Sungguh Umar Bin Khattab tidak pantas untuk menjadi pemimpin, dia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.

Aslam berniat ingin menegur si wanita tersebut namun Khalifah Umar mencegahnya.
Dengan air mata yang berlinang Khalifa Umar bangkit dari duduknya dan melangkah cepat-cepat pulang ke Madinah.
Sesampainya di Madinah, Khalifah Umar tanpa berfikir panjang segera memikul gandum ke pundaknya untuk diberikan kepada si wanita janda tua tersebut.
Melihat Sang Khalifah tergesa-gesa ingin memikul gandum, seraya Aslam berkata :
" Wahai Amirul Mukminin...Biar aku saja yang memikul gandum itu.Khalifah Umar berkata :
"Semua perbuatan akan dipertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah ."" Ini tanggung jawabku sebagai Khalifah dan aku sendirilah yang akan memikul gandum ini ke pundak ku untuk mereka yang membutuhkan ."
Aslam pun diam dan tertunduk.
Kemudian Syaidina Umar pun memikul gandum itu Sampai ke gubuk si wanita itu
Sesampainya di gubuk wanita itu, Khalifah Umar langsung memberikan gandum itu dan
Khalifah Umar berkata :
" Masukkan Gandum itu ke panci mu..Biar aku mengaduknya .."
Serambi meniup asap untuk menghidupkan apinya.
Kemudian si wanita itu pun berkata :
" Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan yang hal-hal baik, engkau lebih baik dari pada Khalifah Umar "Syaidina Umar pun berkata :
" Besok temui Amirul mukminin dan kau bisa temui aku juga disana. Insya Allah ia akan mencukupi kebutuhan mu ."Pada keesokan harinya si wanita itu pun datang untuk menjumpai Khalifah Umar dan Khalifah Syaidina Umar pun menyambutnya dengan senyum bahagia.
Ketika si wanita itu melihat wajah Khalifah Umar Bin Khattab, dia terkejut, kaget, binggung, dan dia tidak tau harus berkata apa karena dia tidak kenal dengan Khalifah Umar. dan si wanita ini pun buru menyadarinya bahwa orang yang membantunya semalam adalah Khalifah Umar Bin Khattab Sang Amirul Mukminin.
Wanita itu pun gemetaran dan ketakutan dengan rasa bersalah si wanita berkata :
" Aku memohon maaf padamu ..Aku tidak tau kalau kau itu adalah Khalifah Umar Bin Khattab ..
Aku telah berdosa menyumpahi dan berkata-kata zalim kepada engkau dan aku siap menerima hukuman yang akan ditimpakan kepadaku . Aku siap ."
Kemudian Syaidina Umar berkata :
" Engkau tidak bersalah...Aku lah yang bersalah ..Selama ini aku telah berdosa membiarkan seorang ibu dan anak-anaknya kelaparan di wilayah kekuasaan ku..
Bagaimana aku mempertanggung jawabkan di hadapan Allah kelak..
Sudi kiranya engkau memaafkan aku .."
Dengan penuh air mata kebahagian maka keduanya pun saling memaafkan dan setelah kejadian itu Khalifah umar pun sering datang ke gubuk wanita itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan anak itu serta memperbaiki gubuk mereka.
Khalifah Umar bin Khattab adalah pemimpin yang tegas dan bersikap lemah lembut kepada Rakyatnya .
Wallahualam Bissawab.
"Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sebenarnya".
Sebab, hanya Allah SWT lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi.

Comments
Post a Comment